Pada suatu hari, ada seorang yang berjubah putih lewat hutan
jatiwani. Raden syahid sudah mengincarnya dari kejauhan. Orang itu membawa
sebatang tongkat yang gaganya berkilauan.
“pasti gagang tongkat itu terbuat dari emas,” perkiraan raden
syahid dalam hatinya.
Gerakan orang tua berjubah putih itu terus diawasi raden syahid. Setelah dekat, ia menghadang langkahnya sembari berkata, “orang tua, mengapa kamu memakai tungkat? tampaknya kamu tidak buta karena sepasang matamu masih dapat melihat dengan baik. dan kamu juga masih keliatan segar, serta kuat jika berjalan tanpa tongkat!”
Gerakan orang tua berjubah putih itu terus diawasi raden syahid. Setelah dekat, ia menghadang langkahnya sembari berkata, “orang tua, mengapa kamu memakai tungkat? tampaknya kamu tidak buta karena sepasang matamu masih dapat melihat dengan baik. dan kamu juga masih keliatan segar, serta kuat jika berjalan tanpa tongkat!”
Lelali berjubah putih itu tersenyum dengan wajahnya yang raman.
Dengan suara lembut, ia berkata, “anak muda. perjalanan hidup manusia itu tidak
menentu. Mereka kadang berada di tempat yang terang, bahkan mereka kadang
berada di tempat gelap. Dengan tongkat ini, aku tidak akan tersesat bila
berjalan dalam kegelapan. ”
“Tapi, saat ini masih siang, saya kira kamu tanpa tongkat ini tidak akan tersesat di hutan ini. sahut raden syahid.
“Tapi, saat ini masih siang, saya kira kamu tanpa tongkat ini tidak akan tersesat di hutan ini. sahut raden syahid.
Lelaki berjubah putih itu kembali tersenyum arif, ia pun
berkata, “anak muda, tongkat adalah pegangan sehingga orang hidup haruslah
mempunyai pegangan supaya tidak tersesat dalam menempuh perjalanan hidupnya”
Tampaknya, berbagai jawaban yang mengandung filosofi itu tidak
menggugah hati raden syahid. Sebenarnya, ia mendengar dan mengakui
kebenarannya, tapi perhatiannya sudah terlanjur tertumpah pada gagang tongkat
lelaki berjubah putih itu. Tanpa banyak bicara lagi, ia merebut tongkat itu
dari tangan lelaki berjubah putih. Akibat dari perbuatan raden syahid
tersebut maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur karena tongkat
itu dicabut dengan paksa.
Dengan susah payah, orang itu bangun dan sepasang matanya
mengluarkan air mata walaupun tidak ada suari tangis dari mulutnya. Pada saat
itu, raden syahid sedang mengamati gagang tongkat yang dipegangnya. Tongkat itu
ternyata bukan dari emas. hanya gaganya yang terbuat dari kuningan sehingga
berkilauan seperti emas ketika tertimpa cahaya matahari.
Raden syahid heran melihat orang itu menangis. Ia segera
mengulurkan kembali tongkat itu. “Jangan menangis, aku kembalikan tongkatmu,
kata arden syahid.
Lelaki itu menjawab “bukan tongkat ini yang aku tangisi” sembari
memperlihatkan beberapa batnag rumput di telapang tangannya ia berkata lagi
“lihatlah, aku telah berbuat dosa dari kesiasiaan. rumput ini tercabut ketika
aku jatuh tersungkur tadi”
“hanya beberapa lembar rumput. kau merasa bedosa? “tanya raden syahid keheranan
“Ya memang berdosa, sebab aku telah mencabutnya tanpa suatu keperluan. Tidak apa apa andaikan rumbut itu digunakan untuk makan ternak. Namun apabila rumbut ini untuk suatu kesia-siaan, maka ini merupakan suatu dosa” jawab lelaki itu
“hanya beberapa lembar rumput. kau merasa bedosa? “tanya raden syahid keheranan
“Ya memang berdosa, sebab aku telah mencabutnya tanpa suatu keperluan. Tidak apa apa andaikan rumbut itu digunakan untuk makan ternak. Namun apabila rumbut ini untuk suatu kesia-siaan, maka ini merupakan suatu dosa” jawab lelaki itu
Mendengar harl itu, raden syahid agar tergetar atas jawaban yang
mengandung nilai keimanan itu
Lelali itu kemudian bertanya “anak muda, sesungguhnya apa yang
kamu cari di hutan ini?
“saya mengintai harta!” jawab raden syahid.
“untuk apa?”
“untuk saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderta kelaparan”
“hmm, sungguh mulia hatimu. sayang caramu mendapatnya keliru”
“orang tua, apa maksudmua?”
“boleh aku bertanya anak muda?”
“silahkan”
“jika kamu mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?”
“Sungguh perbuatan bodoh,” sahut raden syahid. “hal itu hanya menambah kotor dan bau pada pakaian itu”
“saya mengintai harta!” jawab raden syahid.
“untuk apa?”
“untuk saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderta kelaparan”
“hmm, sungguh mulia hatimu. sayang caramu mendapatnya keliru”
“orang tua, apa maksudmua?”
“boleh aku bertanya anak muda?”
“silahkan”
“jika kamu mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?”
“Sungguh perbuatan bodoh,” sahut raden syahid. “hal itu hanya menambah kotor dan bau pada pakaian itu”
Lelaki itu tersenyum, “Demikian pula amal yang kamu lakukan.
Kamu bershadaqoh dengan barang yang didapat secara haram. Sebab, tindakan
merampok atau mencuri, sama halnya mencici pakaian dengan air kencing.”
Mendengar perkataan orang tua itu. raden syahid tercengang
Lelaki itu masih melanjutkan perkataannya, “Allah itu adalah
dzat yang baik. dia hanya menerima amal dari barang yang hahal atau baik”
Raden syahid semakin tercengang mendengar keterangan itu. Rasa
malu mulai menghujam hatinya. Betapa kelirunya perbuatannya selama ini. Wajah
lelaki berjubah putih itu dipandangnya sekali lagi. Wajah yang agung dan
berwibawa, namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Raden syahid mulai suka
dan tertarik pada lelaki berjubah putih itu.
“Pada saat ini, banyak hal yang terkait dalam usaha mengentaskan
kemiskinan dan penderitaan rakyat. Kamu tidak bisa mengubahnya hanya dengan
memberi para penduduk miskisn berupa bantuan makanan dan uang. Kamu harus
memperingatkan para penguasa yang zhalim agar mereka mau mengubah caranya
memerintah yang sewenang-wenang. Kamu juga harus membimbing rakyat agar dapat
meningkatkan taraf kehidupannya!” kata lelaki itu
Raden syahid semakin terpana. Ucapan sepertilah yang diharapkan
selama ini.
“Kalau kamu tidak mau kerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. itu barang halal. Ambilah sesuakmu” kata lelaki itu sambil menunjuk sebatang pohon aren. Seketika itu, seluruh buahnya berubah menjadi emas. tentunya hal itu membuat mata raden syahid terbelalak.
“Kalau kamu tidak mau kerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. itu barang halal. Ambilah sesuakmu” kata lelaki itu sambil menunjuk sebatang pohon aren. Seketika itu, seluruh buahnya berubah menjadi emas. tentunya hal itu membuat mata raden syahid terbelalak.
Raden syahid adalah seorang pemuda sakti. Banyak pengalaman
hidup yang telah dijumpainya. berbagai ilmu aneh telah dipelayarinya. Ia
mengira jika orang itua mempergunakan ilmu sihir. Kalau benar, orang itu
mengeluarkan ilmu sihir, ia pasti dapat mengatasinya. Setelah raden syahid
mengerahkan ilmunya, buah aren tetap berubah menjadi emas. Orang itu berarti
tidak mempergunakan sihir.
Raden syahid terpukau di tempatnya berdiri. ia mencoba memanjat
pohon aren itu. seluruh buanya benar-benar berubah menjadi emas. Ia ingin
mengambil buah anren yang telah berubah menjadi emas itu. Namun, secara
mendadak, buah aren itu rontok dan berjatuhan sehingga mengenai kepalanya. ia
terjerembah ke tanah, lalu roboh dan pisang.
Ketika raden syahid terbangun dari pingsanannya, maka buah arena yang rontoh itu telah berubah menjadi hijau seperti buah aren pada umumnya. Ia pun segera bangkit berdiri, lalu mencari orang berjubah putih itu. tapi orang yang darinya sudah tidak ada di tempat.
“Ia pasti orang sakti yang berilmu tinggi. Melihat caranya berpakaian, tentu ia berasal dari golongan para ulama atau mungkin seorang wali Allah. Aku harus menyusulnya untuk berguru kepadanya,” pikir dalam hati syahid.
Ketika raden syahid terbangun dari pingsanannya, maka buah arena yang rontoh itu telah berubah menjadi hijau seperti buah aren pada umumnya. Ia pun segera bangkit berdiri, lalu mencari orang berjubah putih itu. tapi orang yang darinya sudah tidak ada di tempat.
“Ia pasti orang sakti yang berilmu tinggi. Melihat caranya berpakaian, tentu ia berasal dari golongan para ulama atau mungkin seorang wali Allah. Aku harus menyusulnya untuk berguru kepadanya,” pikir dalam hati syahid.
Raden syahid pun mengejar orang itu. Segenap kemampuan
dikerahkannya untuk berlari cepat. Akhirnya ia dapat melihat bayangan orang itu
dari kejauhan. Orang itu tampak santai melangkahkan kakinya, tapi raden syahid
tidak pernah bisa menyusulnya. Ia jatuh bangun, terseok seok, dan berlari lagi.
Demikianlah setelah tenaganya terkuras habis, ia baru sampai di belakang lelaki
berjuba putih itu.
Lelaki berjubah putih itu berhenti bukan karena kehadiran Raden
Syahid, melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tidak ada
jembatan dan sungai itu tampaknya dalam. Tidak ada apapun ketika ia harus
menyebrang.
“tunggu,” ucap raden syahid ketika melihat orang tua itu hendak
melangkahkan kakinya lagi.
“sudilah tuan menerima saya sebagai murid,” pitanya
“menjadi muridku?” tanya orang itu sembari menoleh, lanjutnya,
“mau belajar apa?”
“apa saja asal tuan menerima saya sebagai murid”, kata raden
syahid
“berat. berat sekali anak muda, bersediakah kamu menerima
syarat-syaratnya?” tanya lelaki itu
“saya bersedia. “jawab raden syahid
Kemudian, lelaki itu menancapkan tongkatnya di tepi sungai.
Raden syahid diperintahkan menungguinya. Ia tidak boleh beranjang dari tempat
itu sebelum lelaki itu kembali menemuinya. Raden syahid bersedia menerima
syarat ujian itu. Selanjutnya, lelaki itu menyebrangi sungai. Sepasang mata
raden syahid terbelalak heran. Sebab, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan
berjalan di daratan. Kakinya tidak basah terkena air.
Setelah lelaki itu menghilang dari pandangan raden syahid. Ia duduk bersila dan berdoa kepada Allah SWT. supaya ditidurkan seperti pada pemuda di gua kahfi ratusan tahun silam. Doanya pun dikabuilkan Allah SWT. ia dapat tertidur dalam pertapaannya selama tiga tahun. Akar dan rerumputan telah membalut dan hampir menutupi seluruh bagian besar anggota tubuhnya.
Setelah lelaki itu menghilang dari pandangan raden syahid. Ia duduk bersila dan berdoa kepada Allah SWT. supaya ditidurkan seperti pada pemuda di gua kahfi ratusan tahun silam. Doanya pun dikabuilkan Allah SWT. ia dapat tertidur dalam pertapaannya selama tiga tahun. Akar dan rerumputan telah membalut dan hampir menutupi seluruh bagian besar anggota tubuhnya.
Setelah tiga tahun, lelaki berjubah puting itu datang menemui
raden syahid. Tapi, raden syahid tak bisa dibangunkan. Ia baru membuka sepasang
matanya setelah lelaki itu mengumandangkan adzan. Tubuh raden syahid
dibersihkan dan diberi pakaian baru yang bersih, kemudian di bawah ke TUban.
Mengapa ke Tuban? Sebab lelaki berjubah putih adalah sunan
bonang. Lalu, Raden syahid diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkat para
wali Allah. DI kemudian hari, raden syahid dikenal sebagai sunan kalijaya.
Kalijaga berarti yang menjaga sungai. Ada yang mengartikan bahwa sunan kali
jaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu. Kata “dijaga”
maksudnya supaya aliran itu tidak membahayakan umat, melainkan diarahkan kepada
ajaran islam yang benar.